Home > motivasi / keagamaan > Agar Umur Memberi Keindahan

Agar Umur Memberi Keindahan

Oleh : Ustadz Sulthan Hadi


Umur manusia adalah sebuah rangkaian waktu yang diberikan Allah swt untuk menjalani hidupnya di dunia, dengan batas yang telah Dia tentukan. Tidak ada perbedaan yang esensi antara umur seseorang dengan seorang yang lain; umur tidak memberi pengaruh pada kebahagiaan, atau pada kesengsaraan; tidak pada kesuksesan atau pada kegagalan. Tetapi umur justru memberi persamaan dalam proses pertumbuhan kita sebagai makhluk hidup, di mana setiap orang pernah merasakan masa kecil, lalu remaja, kemudian tumbuh menjadi dewasa, dan selanjutnya menjadi tua. Tak satu pun manusia di dunia ini yang memulai umurnya dari tua menuju muda, lalu menjadi anak-anak. Tidak ada. Perbedaan dalam umur hanya pada jatah yang telah Allah tentukan untuk setiap jiwa. Maka ada orang yang hidup dengan umurnya sampai kakek-kakek, namun ada juga yang hanya berumur sampai remaja, atau pemuda, atau bahkan lebih singkat dari itu.


Menemukan dan mendapatkan keindahan dalam umur, atau keberkahan dalam bahasa agama kita, adalah hal yang harus dicapai dengan berbuat dan berusaha. Usaha inilah yang kelak akan membedakan warna hidup kita dengan orang lain. Inilah yang mesti dilakukan, dan tentu saja harus diperbanyak. Karena tanpa keindahan yang kita ciptakan, maka umur itu akan berjalan hambar, sia-sia, dan tak berbekas. Padahal umur itu, sebagai sebuah pemberian dari Allah, ada pertanggungjawabannya. Dan tentu saja, hanya saat-saat yang indah itulah dan proses mencapainya, yang akan menolong kita di hadapan Allah swt.


Ketika kita hidup di tengah manusia dan tidak membebani mereka dengan perbuatan tak terpuji


Islam, itulah kata indah dan keindahan yang diridhai Allah swt untuk hamba-hamba-Nya. Dia mengutus para rasul-Nya untuk membawa dan menyebarkan Islam agar alam ini dan segala isinya menjadi indah. Maka ketika kita menyatakan diri sebagai Muslim, sesungguhnya kita sedang mengemban misi keindahan untuk segenap alam ini, minimal bagi lingkungan di mana kita tinggal. Dan ketika misi itu berhasil kita jalankan, ketika itu pula kita berhasil menorehkan keindahan di setiap detik perjalanan umur kita.


Di luar Islam adalah kekufuran, dan itulah sumber malapetaka serta kehancuran di muka bumi ini. Allah menghancurkan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang Islam dari kekufuran mereka. Allah berfirman, “Maka kami keluarkan orang-orang beriman yang ada di dalammnya (negeri kaum Luth). Dan tidak Kami dapatkan di sana kecuali sebuah rumah dari orang-orang Islam.” (QS. Adz Dzariyat: 35-36)


Menjadi Muslim dan hidup di tengah masyarakat dengan memberi keindahan adalah ajaran sekaligus perintah dalam Islam. Dalam ayat- Nya, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS.An-Nahl: 90)


Ayat ini tidak hanya datang sebagai perintah, tetapi juga menjelaskan apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjadi pribadi yang baik, atau sebuah elemen yang akan berperan membentuk satu masyarakat yang harmonis dan padu. Ayat ini menawarkan kita tiga prinsip untuk dijadiikan landasan dalam hidup bermasyarakat. Tiga prinsip itu adalah keadilan, ihsan, dan takaful. Ketiganya, jika diaplikasikan dengan baik oleh setiap orang, maka ia akan mampu membendung tiga perilaku buruk: al-jahsya’, segala perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu, seperti zina dan mabuk-mabukan; al munkar, perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat, seperti mencuri, merampok, dan tindakan aniaya lainnya; dan al baghyu, tindakan yang mengarah kepada permusuhan, seperti kezaliman dan tindakan sewenang-wenang.

Al fahsya’, al mungkar, dan al baghy adalah perilaku merusak. Ia adalah penyakit yang senantiasa menciptakan keonaran, merongrong keutuhan dan eksistensi maasyarakat. Sebuah masyarakat tidak mungkin bisa tegak jika di antara individunya ada yang akrab dengan perilaku keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dan jika masyarakat telah terjangkiti perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan dengan seegala ragam bentuknya, tidak akan mungkin bangkit dari keterpurukan. Bahkan akan senantiasa berada dalam kesengsaraan.


Ayat ini, sekali lagi, adalah perintah. Ia menyeru setiap kita untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Islam, ajaran yang menjadi panduan kita dalam hidup bermasyarakat. Dengan menjalankan tiga prinsip di dalamnya, maka kita sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat, tentu akan mampu memberi kenyamanan di tengah-tengah mereka, tidak mengundang petaka dan kerusakan.

Saat kita mampu mengaktualisasikan hal-hal tersebut; menjadi manusia yang memberi kesejukan dan ketenangan, sesungguhnya kita tengah merangkai masa-masa indah dalam umur kita. Umur kita akan dikenang orang, meski mungkin kita telah tiada.


Ketika kita berusaha melawan tipu daya syetan dan kembali kepada Allah, mengetuk pintu-Nya, lalu Allah membukanya dan menerima taubat kita


Suatu malam yang hening, terlihat seorang lelaki berjalan-jalan di sekitar Madinah dalam keadaan lapar. Dia berhenti di luar sebuah rumah karena hidungnya mencium aroma makanan. Tampaknya, iman dalam dirinya belum cukup kuat untuk menuntun perilakunya. Karena tergiur dengan makanan itu, dia menyusup masuk ke dalam rumah tersebut tanpa izin.


Namun, ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk menggapai makan tersebut, tiba-tiba dia teringat satu pesan Rasulullah saw yang pernah didengarnya, “Barangsiapa meninggalkan yang haram, dia akan mendapat yang halal.” Mengingat kata-kata itu, dia urung mengambil makanan tadi.


Dia hendak segera pergi, tapi godaan lain berkelebat di depan mata. Sebuah bungkusan menarik perhatiannya. Segera bungkusan itu digenggamnya, dengan rasa yakin tak ada orang yang tahu. Namun sekali lagi niat jahatnya dilumpuhkan oleh pesan Rasulullah saw, “Tinggalkan yang haram, engkau akan dapat yang halal.” Diletakkannya kembali barang berharga itu seraya membatin, “Haram mengambil barang milik orang lain.”


Belum sempat melangkah keluar, matanya menangkap godaan lebih hebat. Dadanya berdebar kencang melihat seorang perempuan cantik sedang terlelap di atas kasurnya. Perlahan dia mendekat. Tangannya bergetar, peluh pun mengalir membasahi tubuh. Nafsu membisikkan kata-kata indah ditelinganya, namun pesan Rasulullah kembali kencang tergiang, “Tinggalkan yang haram, akan kau dapatkan yang halal.”


Dia pun beristighfar sembari perlahan melangkah pergi, membawa pesan Rasulullah saw yang melekat di sanubarinya. Dia berhasil mematahkan keinginan nafsunya. Lega di hatinya sangat terasa begitu kakinya telah menapak di masjid Nabi, seusai ‘perang sengit’ melawan godaan syetan. Selesai shalat Shubuh berjamaah, lelaki itu merebahkan diri di lantai masjid, karena rasa kantuk yang tak kuasa ia lawan.


Setelah matahari meninggi, seorang perempuan datang menjumpai Rasulullah saw di masjid. Dia mengadu rumahnya dimasuki orang. Dia takut hal itu terjadi lagi, lalu meminta kepada beliau seorang pengawal yang dapat menjaga rumah dan hartanya. Rupanya dia seorang janda.


Rasulullah memandang sekelilingnya, kalau-kalau ada orang yang dapat menjaga wanita itu. Matanya tertuju pada sosok lelaki sedang lelap di sudut masjid. Beliau pun menemui dan menanyainya, adakah dia telah beristeri. “Saya seorang duda,” jawab lelaki itu singkat. Beliau lalu bertanya kepada si wanita dan si lelaki, apakah keduanya bersedia menjadi suami istri. Keduanya tampak tersipu malu mendengar tawaran Rasulullah.


Teringat perbuatannya semalam, lelaki itu tidak dapat menahan diri daripada menangis lalu menceritakan apa yang sebenarnya berlaku di rumah wanita tersebut. Dia bertaubat. Dan akhirnya Rasulullah saw menikahkan lelaki dan wanita itu dengan disaksikan oleh para Sahabat. Berkat meninggalkan yang haram, dia mendapat yang halal sebagai gantinya. Kini, wanita cantik itu dan segala di dalam rumahnya menjadi halal baginya.


Godaan syetan selalu datang di sepanjang umur kita. Tetapi umur itu akan menjadi indah, jika pada saat godaan itu datang kita mampu menahan diri, menekan nafsu, melawan syetan agar bisa terhindar dari perangkap yang membinasakan, seperti halnya lelaki dalam kisah ini.


Ketika kita tersenyum dengan jujur mengghadapi kesulitan hidup kita, lalu hati dan jiwa kita pun tertawa


Hidup adalah perjalanan yang selalu diiringi masalah. Sepanjang kita masih berrnafas, masalah dan kesulitan akan menjadi bagian dari pengalaman keberadaan kita di dunia.


Pada keadaan tertentu, kita mungkin diberkahi dengan keberuntungan, ke suksesan, pujian, dan kegembiraan yang membuat kita berpuas lega. Di keadaan lain, mungkin pula kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan seperti kegagalan, difitnah, dizalimi, atau ditimpa satu penyakit yang membuat kita sedih dan menangis. Hidup berayun laksana pendulum. Satu saat, ia berada di tempat yang enak, disambut dengan hati yang berbunga. Saat lain ia berayun menuju keadaan yang tidak ramah, yang sungguh ingin kita hindarkan. Kadang keinginan kita bertemu dengan keinginan Allah, sehingga saat itu hidup ini terasa indah, bahagia dan menyenangkan. Namun kadang juga keinginan kita berlawanan dengan keinginan Allah, lalu dunia serasa begitu sempit, hidup bagai terpenjara.


Kesenangan mungkin bisa membuat kita tersenyum. Kesuksesan juga tentu dapat membuat kita tertawa. Namun, sanggupkah kita tersenyum dan tertawa di saat sedang ditimpa kesulitan dan kegagalan. Rasanya sangat sulit melakukannya, sebab keadaan itu memang terlihat bertolak belakang dari kata senyum dan tawa. Tapi bagi orang yang sanggup melakukannya, dialah orang yang mulia. Dialah manusia yang mampu menghargai usianya. Dialah sosok yang biijak, yang mampu memperbanyak saat-saat indah dalam hidupnya.


Ella Wilcox berkata, “Cukup mudah untuk bergembira, tatkala hidup mengalun seperti lagu. Namun manusia yang mulia adalah ia yang bisa tersenyum. Ketika segalanya jadi salah, kerena kesulitan adalah ujian bagi hati yang selalu datang bersama tahun. Senyum yang berharga pujian dunia adalah yang bersinar dari air mata.”


Ketika kesulitan datang, kita tidak boleh menjadi kecil. Sebaliknya, tersenyumlah dan bertindaklah bijaksana untuk mengatasinya. Sebab tak ada orang yang masih memikirkan keduniawian yang bisa lepas dari masalah. Jadi, bukan orangnya yang membedakan seorang yang bijak dari yang tidak bijak, melainkan cara ia menghadapi masalah.


Suatu kali, Nehru pernah berkata, “Kita harus menghadapi masalah dan menyelesaikannya: Mau tak mau kita harus menghadapinya. Tentunya, dengan berdasarkan pada ajaran spiritual; tapi jangan melarikan diri darinya atas nama spiritualisme.”

Sedang seorang penyair masyhur di India, DR Rabindranath Tagore, dalam syairnya menjelaskan bagaimana menghadapi masalah tanpa takut dan cemas, “Semoga aku tak rindu diselamatkan dari takut, tapi berharap pada kesabaran untuk memenangkan kebebasan.”


Kondisi sulit itu, jika kita tidak mampu menerimanya secara ikhlas, tersenyum jujur menghadapinya, bukan tidak mungkin dia akan memangkas umur kita. Betapa banyak orang nekat menghabisi diri sendiri karena merasa lelah dengan situasi sulit. Tapi apakah masalah akan selesai dengan itu? Jawabannya, tentu tidak.

Maka yang terbaik untuk kita lakukan dalam situasi itu adalah, tersenyumlah dengan jujur dan ikhlas, bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah dan pasti ada akhir dan jalan keluarnya. Sebab dengan begitu, hidup ini akan terasa mudah. Umur kita pun akan menjadi lebih indah karena terhindar dari jebakan-jebakan yang memandegkan.


Ketika kita tetap mampu berbagi dengan orang lain, dalam kondisi kita yang juga sedang kekurangan


Ketika hidup terasa serba sulit, seperti yang sering kita alami di zaman ini; memikirkan diri sendiri bisa jadi sudah merupakan warna paling kentara dalam keseharian kita. Padahal, berpikir hanya untuk diri sendiri merupakan akar bagi tumbuhnya sikap individualis. Dan ketika seseorang sudah mementingkan dirinya sendiri, maka lupalah ia akan sendi-sendi pengikat yang menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sebab jika setiap orang sudah berlaku seperti itu, tentu sudah sulit atau enggan mendengarkan suara yang sayup berbisik melalui hati nurani. Jangan tanyakan lagi apa pedulimu kepada orang lain. Karena tanpa hati nurani, kepedulian kepada orang lain sudah dengan sendirinya berubah menjadi jenazah, yang tak mungkin kunjung bangkit hidup kembali.


Memberi. Sebuah kata yang penuh misteri. Mengapa kita harus memberi kalau hidup kita sendiri saja sudah sesusah ini? Sebuah pertanyaan yang beralasan. Terutama jika hidup kita sudah diliputi oleh semangat materialisme yang membutakan hati. Dengan demikian, sudah pasti hanya sedikit manusia yang bisa memberi kepada orang lain.

Tetapi memberi sebenarnya tidak hanya sebatas pada materi. Sesuatu manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain melalui tenaga, pikiran dan pandangan kita, juga disebut dengan memberi. Karena itu, memberi sesungguhnya tidaklah terlalu sulit. Kita bantu seseorang dalam melakukan kebaikan atau mencegahnya dari perbuatan buruk, itu pun sudah merupakan manfaat yang besar.


Sebisa mungkin kita harus melakukan sesuatu. Apapun bentuknya. Seperti kata Yahya bin Mu’adz radhiyallahu anh, “Sebagai seorang Muslim hendaknya engkau mempunyai tiga hal yang positif: Jika tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, maka janganlah engkau memberiikan mudharat kepadanya. Jika tidak mau memujinya, maka janganlah menjelekkannnya. Dan jika engkau tidak bisa membuatnya bahagia, maka janganlah membuatnya bersedih.”


Memberi atau berbagi dengan sesama dalam keadaan kita tidak punya, tentu saja sulit. Tetapi jika kita mampu melakukannnya, itulah keindahan yang berhasil kita ciptakan dalam umur kita. Suatu saat nanti, perilaku mulia itu akan kita saksikan sebagai pemberat timbangan kebaikan dalam mizan-Nya Allah swt, atau sebagai pembela saat umur itu harus dipertanyakan untuk apa ia dihabiskan. Indah pasti, apalagi ketika semua orang merasa rugi karena tidak melakukan yang terbaik ketika umur itu masih menyertainya.


Ketika kita kembali ke keluarga dan menndapati mereka sebegai energi untuk melanjutkan kehidupan


Umur kita umumnya lebih banyak diihabiskan di dua tempat; di rumah dan di tempat kerja. Di rumah, umur dihabiskan bersama keluarga; bersantai dan beristirahat. Di tempat kerja, umur kita dihabiskan untuk mencari nafkah untuk diri dan keluarga.


Rumah dan keluarga adalan tempat kita menumpahkan cinta. Sedang kantor adalah tempat kita mencari penghidupan sebagai bentuk pengorbanan kita demi cinta kita kepada orang-orang yang ada di rumah. Umur kita di dua tempat itu, terlebih di rumah akan menjadi indah dan akan terasa sangat indah jika ia menjadi miniatur surga untuk hidup kita yang hanya sebentar ini. Orang-orang di dalamnya menjadi sumber energi yang terus memberi semangat kepada kita untuk melakukan apapun demi melanjutkan kehidupan kita dan mereka.


Seorang kepala keluarga bernama Suyatno, 58 tahun, mengisi lebih dari 20 tahun umurnya dengan bekerja mencari nafkah sembari merawat istrinya yang sakit, dan mendidik dan membesarkan empat orang anaknya hingga semua menikah.

Istrinya menderita lumpuh; seluruh tubuhnya menjadi lemah seperti tak bertulang, dan lidahnya kaku tak bergerak, sejak anak keempatnya lahir. Dari saat itu, setiap hari Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istri nya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, Suyatno membaringkan istrinya di depan tv supaya tidak merasa kesepian.


Sepulang kerja, selepas magrib Suyattno temani istrinya menonton tv sambil menceritakan semua kejadian yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa kata, Suyatno sudah cukup senang, bahkan selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.


Suatu hari, keempat anaknya yang sudah tinggal terpisah bersama keluarga masing-masing, datang menjenguk ibu mereka. Saat itu, mereka berkata kepada Suyatno, “Sudah empat kali kami mengijinkan Bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkan. Kapan Bapak menikmati masa tua jika terus seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji akan merawat ibu bergantian.”


Tapi tawaran itu dijawab Suyatno dengan pernyataan yang mungkin tak pernah disangka oleh mereka, “Anakku. Kalaulah hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak ada satu pun hal yang lebih berharga lebih daripada ini. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahaagia, tapi apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang?” Anak-anaknya pun menangis mendengar jawaban itu.


Dalam sebuah wawancara dengan salah satu tv swasta, Suyatno ditanya alasannya kenapa bisa bertahan selama 25 tahun merawat istri yang sudah tidak bisa apa-apa. Dia menjawab, “Manusia di dunia ini sering mengagungkan cinta, tapi mereka tidak mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya. Mencintai saya dengan hati dan batinnya. Bukan dengan mata. Dan dia telah memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu.”


Begitulah, keluarga menjadi energi untuk tetap melanjutkan hidup, bagaimana pun keadaannya. Dan pada saat kita telah menemukan itu dalam hidup kita, hari-hari kita akan menempuh umur, akan selalu teras indah dan nyaman.


Ketika kita mencapai puncak prestasi sebagai hasil dari kerja keras kita


Prestasi dan sukses itu indah. Tapi dia tidak selalu ada, atau datang dan menyambangi umur kita. Hanya sesekali, dan itu tidaklah mudah. Ya, tentu saja tidak mudah, sebab sukses adalah hasil dari sebuah proses yang terkadang memakan waktu cukup panjang. Dan memang, tak ada sukses yang datang kebetulan. Kalaupun ada, mungkin kita akan menyebutknya sebuah keajaiban.


Dullah Rochmad, 31, adalah seorang pengusaha koran dengan lebih dari 30 orang karyawan dan beberapa aset bangunan. Capaian itu tentu bisa dibilang sebuah kesuksesan, sebab Dullah memulai usahanya sebagai tukang koran keliling. Laki-laki asal Bandar Kidul, Mojoroto itu mengawali pekerjaannya berjualan koran sejak duduk di bangku kelas 2 MTs, sekitar tahun 1993 lalu.


Waktu itu, Dullah nekat berjualan koran karena tidak ingin sekolahnya puutus. Dia hampir drop out gara-gara tidak memiliki biaya. “Bapakku tukang becak, ibuku berjualan di pasar. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja kurang,” kenang Dullah dengan mata berkaca-kaca.


Sambil terus sekolah, setiap hari Dullah kecil berjualan koran. Mulanya, dia hanya mampu menjual 10 hingga 15 eksemplar per hari. Hasil berjualan koran ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah hingga lulus MAN di Kediri, pada 1997. Lulus sekolah, Dullah tidak ingin jadi pengangguran. Dia meneruskan usahanya berjualan koran.


Sekarang Dullah memetik hasilnya. Dalam sehari, dia menjual hingga 1.000 eksemplar koran lokal, ditambah majalah dan tabloid yang jumlahnya mencapai ratusan eksemp1ar. Jumlah yang tentu saja tidak sedikit, tapi untuk mencapai itu dia harus manghabiskan umurnya hampir 18 tahun. Cukup lama. Tetapi begitulah ritme mencari harta, sukses yang ingin dicapai harus melalui jalan terjal dalam waktu yang lama.


Jika sukses itu ukurannya lulus sekolah, misalnya, maka sejak kita masuk SD sampai selesai sarjana, hanya ada empat kali kita merayakan kesuksesan. Padahal paling tidak kita butuh umur sekitar 15 tahun untuk merampungkan semuanya. Namun, merayakan kelulusan tentulah sebuah moment sangat indah dalam umur kita. Ia adalah kenangan yang mungkin tak terlupakan.


Maka, jika kita tahu dan yakin bahwa prestasi dan sukses itu sesuatu yang indah dalam hidup, maka peluangnya harus selalu kita buka. Kesempatan untuk meraihnya mesti diperluas. Dalam segala aktivitas yang kita jalani harus ada semangat untuk melakukannya dengan baik, sehingga suatu saat pretasi dari hasil kerja itu yang akan bisa kita lihat.


Tetapi jika kita melakukannya bias-abiasa saja, hasilnya pun akan biasa. Umur kita yang terus berjalan, akan terlihat membentang lurus seperti tali; datar dan bahkan ada bagian-bagian yang terlihat melenggkung ke bawah.


Umur kita, meskipun memang tidak bisa selalu menanjak, tetapi harus ada gelombang-gelombang atau lompantan yang menunjukkan bahwa kita mengghargainya, memuliakan setiap detik dan menitnya, menciptakan nilai-nilai positif yang membuatnya indah, berkesan dan berharga. Sebab pada akhirnya nanti, saat-saat indah itulah yang akan membuat kita bangga; di hadapan manusia dan terutama di hadapan Allah swt.

Categories: motivasi / keagamaan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: