Home > etc . . > Buka Tabungan Dengan Hanya Rp. 20.000,-

Buka Tabungan Dengan Hanya Rp. 20.000,-

Diterbitkan : 15 Oktober 2009 – 4:14pm | Oleh Redaksi Indonesia


http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/buka-tabungan-dengan-hanya-rp-20000


Bank Indonesia ingin mendorong rakyat miskin membuka tabungan, hanya dengan uang Rp. 20.000. Inisiatif ini antara lain untuk mempermudah mereka mendapatkan pinjaman seperti mikro kredit.


Data BI menunjukkan sebanyak 43 juta warga tidak membuka tabungan. Pengamat ekonomi pada lembaga penelitian Smeru, Bambang Sulaksono meragukan inisiatif BI.


“Lembaga perbankan, seperti misalnya cabang BRI, di satu kecamatan hanya ada satu. Jadi sulit mendatangi lembaga perbankan untuk bisa menabung.”


Lembaga-lembaga perbankan kebanyakan letaknya di atau dekat kota. Sebetulnya di sekolah-sekolah sudah diadakan tabungan untuk pelajar. Tabungan itu tidak pernah dikaitkan dengan mendapat pinjaman.


Tabanas
Dulu di zaman Soeharto sudah ada yang disebut Tabanas atau Tabungan Pembangunan Nasional. Namun sistem itu kurang berkembang, karena sarana lembaga keuangan tidak tersedia di desa-desa.


Sementara kalau orang miskin biasanya tinggal jauh dari lembaga keuangan. Untuk menyimpan uang di sana, ongkosnya cukup mahal. Jadi untuk dikembangkan hanya bisa melalui sekolah-sekolah, ujar Bambang Sulaksono.

“Lalu dia menabung di sekolah. Nanti sekolah menabung di Tabanas. Tapi selama ini itu hanya digunakan sebagai melatih mereka saja supaya gemar menabung, bukan dimaksudkan untuk mempunyai dampak ekonomis.”


Inisiatif Bank Indonesia antara lain untuk mempermudah warga miskin
mendapatkan pinjaman seperti mikro kredit.


Kurang berkembang

Tapi, ujar Bambang Sulaksono, di Indonesia mikro kredit agak kurang
berkembang karena dulu sebelum tahun 1990an banyak lembaga-lembaga kredit seperti BKK atau LPD. Tapi sejak tahun 1999 ada UU Perbankan di mana semua kredit mikro diarahkan menjadi BPR. Karena menjadi BPR, itu untuk memberikan kredit tidak mudah. Perbankan harus ada kelayakan, jaminan.

“Kalau hanya diminta untuk menabung saja tapi program sendiri belum jelas, mungkin agak sulit juga. Sementara yang kredit mikro yang dari lembaga keuangan mikro itu yang sekarang ini dianggap non formal. Non formal itu tidak mendapat bantuan dari pemerintah sebetulnya. Karena mereka, sebagai non formal, dia tidak bisa memobilisasi dana. Jadi dia bisa menyalurkan kredit tapi tidak bisa mencari dana, sehingga banyak lembaga-lembaga keuangan mikro itu yang sebetulnya berkembang.”


Belum disahkan

Gema PKM dengan BI sejak tahun 2001 sudah membuat RUU tentang keuangan mikro, tapi sampai sekarang belum disahkan.


“Saya hanya melihat linknya, bagaimana itu bahwa pemerintah dengan menabung Rp.20.000 itu bisa mendapatkan kredit mikro secara mudah. Itu sulit untuk dikembangkan selama aspek legal dari lembaga keuangan mikro tidak diberi dukungan secara legal.”


Jadi Bambang Sulaksono juga meragukan apakah inisiatif BI bisa
mempermudah warga miskin mendapatkan kredit mikro, karena lembaga kredit yang formal jauh dari wilayah tempat tinggal mereka.


“Kecuali kalau ada lembaga yang di desa. Tapi pada kenyataan nggak ada.”

Categories: etc . .
  1. October 16, 2009 at 9:18 AM

    saya porjo
    tetanggga kota

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: